Tampilkan postingan dengan label joko widodo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label joko widodo. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juli 2014

Fahri Apa Lupa Bahwa Menghina itu Dilarang?


Demo santri terhadap umpatan "sinting" Fahri Hamzah terhadap keinginan Joko Widodo menjadikan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri se-Indonesia sebagaimana permintaan para santri.(antaranews.com)


Saya kembali dikejutkan dengan berita yang berkembang. Selain berita yang berkembang di tengah masyarakat, opinipun kembali menyeruak di tengah-tengah media massa maupun media sosial.

Sayang sekali beritanya justru berita negatif. Fahri Hamzah dalam cuitannya di twitter tanggal 27 Juni yang mengatakan “sinting” pada Pak Jokowi karena Pak Jokowi mendukung dan mengapresiasi ditetapkannya tanggal 1 Muharram sebagai hari santri. Tentu saja para santri menjadi senang dan bangga karena aspirasinya didukung oleh Capres nomor 2 ini. Meskipun, para santri bereaksi dan meminta Fahri Hamzah meminta maaf lantaran dianggap menghina para santri ini.

Entah kelewat semangat membenci Jokowi atau saking stres karena mendapatkan tekanan-tekanan dari media. Seperti ungkapan narasumber tatkala diwawancarai Metro TV pagi tadi.

Seorang politisi PKS yang juga menjadi mitra koalisi Prabowo-Hatta ini justru menebar racun kebencian bagi kubunya sendiri. Sejak pertama kemunculannya di beberapa event dan acara di media elektronik, ternyata Fachri Hamzah yang katanya seorang Doktor ini sengaja membuat masyarakat resah dan terkesan membela sebuah kejahatan. Tak pelak karena segala ucapannya sering keluar dari ranah “kewarasan” banyak kalangan yang membenci sepak terjang pentolan PKS ini.

Saya menduga, selain karena beliau kecewa kenapa Jokowi dibela banyak kalangan baik dari kalangan militer sampai tukang cuci, ternyata Jokowi mampu melangkah lebih cepat dalam mengambil sikap. Tentu saja kubu Prabowo menjadi semakin kehilangan moment-moment penting. Bagaimana mungkin Prabowo semakin dicintai kalangan NU yang notabene banyak yang berasal dari pesantren jika kata-kata dan sikapnya justru kontraproduktif. Bukannya mencari simpati dari wong pondokan tapi justru seperti menyulut kebencian kepada warga pesantren ini.

Mungkin saja dugaan saya salah, dan saya mencoba untuk tidak menyerang balik atau memfitnah Fahri Hamzah karena pernyataan konyol tersebut. Tentu saja karena saya sadar tak pantas untuk menjelekkan orang atau golongan lain, karena amat dibenci oleh Allah dan Nabi Muhammad SAW. Selain karena saat ini tengah menjalankan ibadah puasa, juga karena mencoba untuk tidak emosional dengan membalas secara membabi buta.

Saya dan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam pun mengetahui bahwa Fahri Hamzah adalah seorang yang fasih membaca Al-Qur’an dan memahami tentang hadits-hadits Nabi. Tapi kenapa ya beliau menyatakan sesuatu yang justru jauh dari kesan bahwa umat Islam mengikuti ajaran nabi. Betapa gamblangnya Al-Qur’an menjelaskan bahwa “Yaa ayyuhalladzina Aamanu laa yasghor qoumun min qoumin ‘asaa a ayyakuna khoirum minhum” (QS Al Hujurat ayat 11). “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki menghina sekumpulan yang lain. karena bisa jadi kaum yang dihina itu lebih baik dari yang menghina” . Dengan kacamata saya sebagai orang awam, hakekatnya perbuatan menghina, melecehkan, menghujat dan memfitnah bisa jadi justru akan membuka borok orang-orang yang melontarkannya. Atau orang yang dijelek-jelekkannya dengan kata-kata “sinting” bisa jadi memiliki kepribadian yang lebih baik dan lebih waras dari orang yang menjelek-jelekkan.

Bahkan ada banyak hadits yang jelas-jelas melarang seseorang menghina, menjelek-jelekkan dan merendahkan saudaranya karena para pelakunya akan menanggung dosa dari orang yang dihina bahkan lebih dari itu si penghina disebut sebagai orang yang fasik.
Dengan kata lain, secara tidak langsung bapak Dr. Fahri Hamzah sudah meninggalkan ajaran nabinya bahwa menghina itu tidak diperkenankan karena sama halnya menghina ciptaan Allah SWT. Dan lebih dari itu dengan hinaan itu pak Fahri Hamzah sama seperti membunuh saudaranya yang seagama. Sekali lagi Fahri Hamzah apakah lupa? Dan apakah Fahri Hamzah tak ingat lagi bahwa beliau seorang politisi partai yang berkedok Islam? Bahkan partai ini yang selalu mengatakan bahwa partainya paling Islami. Yang lebih aneh lagi saat kan beliau masih menjadi anggota legislatif yang sepatutnya menjadi panutan masyarakat yang diwakilinya.

Tentu saja, karena status “sinting” yang ditujukan pada pak Jokowi mendapatkan reaksi keras dari kalangan pesantren, sumber. Para santri tersebut tidak hanya kecewa dengan tokoh PKS ini, tapi lebih dari itu mengecam tindakan beliau karena sangat melecehkan. Dan sepatutnya Fahri Hamzah meminta maaf kepada seluruh santri di Indonesia. Terlebih-lebih pada pak Jokowi.

Dan tentu saja semua santri dan pengasuh pondok pesantren sedikit banyak akan semakin menjauhi kubu Prabowo-Hatta karena sikapnya yang seperti tidak berpendidikan. Mereka berilmu tinggi sejatinya sangat lemah dari pemahaman. Pada posisi ini, tentu saja Jokowi-Jusuf Kalla semakin tenar dan semakin mendapatkan pengaruh yang tinggi dari kalangan pesantren. Meskipun mungkin ada juga kalangan pesantren yang masih setia pada Prabowo-Hatta karena tidak terlalu menggubris umpatan Fahri Hamzah ini.

Dari status tersebut, mata umat Islam pun akan semakin terbuka, bahwa tidak menjamin sosok yang “katanya” islamis dan selalu menggunakakn ayat-ayat Allah dapat dianggap mencerminkan sebagai muslim sejati. Dan sangat keliru bahwa ketika melihat Jokowi yang sederhana dianggap sebagai seseorang yang tidak menjalankan agamanya.

Karena status ini, Fahri Hamzah dapat dituntut sesuai dengan undang-undang no 42 tahun 2008 tentang Pilpres pasal 41 ayat 1 huruf C, bahwa pelaksana, peserta dan petugas kampanye dilarang menghina seseorang, agama, suku ras, golongan calon lainnya.

Yang pasti, sikap beliau sudah jauh dari etika dan kepatutan sosok wakil rakyat dan umat Islam,  yang justru tidak menjadi contoh bagi rakyatnya serta tidak memberikan pendidikan dalam berdemokrasi secara santun dan beradab. Semoga masyarakat Indonesia semakin tersadar bahwa kehidupan damai dan kenyamanan dalam berdemokrasi harus diawali dari kebaikan dahulu dari diri sendiri tanpa aksi curang dan melontarkan fitnah pada orang yang tidak bersalah.

Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan.

Salam

Jumat, 13 Juni 2014

Kenapa Saya Tak Memihak Prabowo atau Jokowi? Ini Alasannya

Capres2014/bandung-bisnis.com
 
Saya melihat tim sukses kedua kubu sepertinya terlihat semakin gencar menyampaikan kecaman dan hujatan kepada masing-masing lawan. Tak tanggung-tanggung mereka berusaha mematahkan lawan politiknya dengan bermacam-macam argumen yang sama-sama akurat. Paling tidak akurat menurut masing-masing Timses.

Selain gencarnya mereka menyebarkan propaganda yang katanya black campaign, hakekatnya mereka berusaha saling kadal-kadalan. Menyebar isyu seolah-olah yang menyebarkan adalah lawan p0litiknya. Padahal jika ditelusuri menurut kacamata “hitam” hakekatnya penyebar isu tersebut justru adalah yang katanya korban.

Meskipun semuanya menolak dan dengan alot mereka mengatakan bahwa tidak pernah menyebarkan isu tersebut. Nah loh. jika kedua kubu tidak menyebarkan isu menyesatkan dan propaganda murahan lalu siapa yang bermain?

Sebagaimana judul tulisan saya kog kenapa saya tidak memihak Prabowo atau Jokowi.

Tahu nggak Anda semuanya yang saling menghujat dan mencela, rata-rata pelaku keji mereka adalah sosok yang “tidak jelas” karena memakai akun kloningan atau akun abal-abal dengan nama dan foto yang seringkali palsu. Kemungkinan pertama dalam ilmu propaganda politik mereka takut diketahui siapa sebenarnya penulis berita atau opini bahkan isu-isu tersebut. Dengan indikator ini saya sebagai orang yang awam dengan mudah menebak bahwa orang yang menyebarkan isyu itu sengaja membuat konflik dan ingin bermain politik. Seperti kata pepatah seperti mengail di air keruh.

Ketika melihat konflik horizontal karena memperebutkan dukungan “gelap” hakekatnya mereka hanya ingin menyebarkan kekisruhan di dalam kompasiana sendiri. Bahkan lebih dari itu mereka adalah sosok bayaran yang ingin memecah belah umat islam. Secara gitu loh hari gini mana ada yang mau menyebarkan isu dan opini negatif kalau nggak ada kepentingannya.

Pemahaman kedua masih juga sama, mereka sengaja menempatkan posisi yang mau cari aman. Dengan melancarkan aksi menyerang salah satu pihak, hakekatnya pelakunya sudah mendapatkan kepuasan batin karena telah menciptakan konflik di tengah masyarakat. Meskipun tidak semua orang awam membaca situs kompasiana, paling tidak para intelektual muda sengaja dihasut agar saling menghujat dan membenci kedua calon presiden.

Sekali lagi melihat rupa-rupa mereka yang nggak jelas saya jadi semakin kecewa, ternyata kompasiana berisi tikus-tikus yang suka merusak lumbung padi. Mereka berusaha menggerogoti lumbung dari dalam dan ketika semua makanan habis tanpa sisa, mereka akan meninggalkannya.

Jika dianalogikan dengan fikiran awam, sosok pemilik akun kloningan dan beberapa diantaranya adalah akun-akun baru dan nggak jelas kemana mereka berkiblat, hakekatnya mereka adalah para tikus. Bahkan lebih dari itu para ular dan srigala berbulu domba.

Mereka berusaha menjatuhkan satu pihak dengan menyebarkan isu dan black campaign padahal mereka adalah orang ketiga yang sengaja ingin memperoleh keuntungan dari kekisruhan yang muncul.

Beberapa karakteristik timses abal-abal maupun timses beneran adalah mereka melancarkan serangan ke kubu lawan karena ingin bermain dan memancing di air keruh. Dengan cara kotor ingin merusak keharmonisan kompasiana. Bisa dari kompasiana sendiri atau medsos saingan yang saat ini mulai tumbuh.

Dugaan ketiga adalah hakekatnya mereka ingin mengadu domba kedua tokoh dan para konstituen serta simpatisan. Ketika kedua kubu saling emosi dan para pengikut juga terjebak pada pola pikir primitif maka tak ada jalan lain, kedua kubu akan terlibat bentrok karena merasa disakiti dan difitnah oleh pihak lawan. Meskipun hakekatnya bukan dari kedua kubu tapi pihak ketiga yang ingin mendapatkan madunya.

Lagi pula kenapa saya memilih netral, karena nggak ada untungnya juga saya menghujat salah satu capres karena mereka dalah saudara saya yang sama-sama orang muslim. Bodoh sekali jika gara-gara perbedaan pandangan saya harus menghujat keduanya.

Alasan selanjutnya, jika kedua capres ternyata ada yang menduduki tahta kepresidenan, tentu saja popularitas dan segala hal berkaitan materi atau kekayaan menjadi milik mereka. Lah saya, sekarang makan nasi pake tempe, meskipun siapapun presidennya sepertinya posisi saya tidak berubah. Melainkan semua karena usaha dan bekerja secara tekun kalau mendapatkan kesuksesan.

Yang perlu diingat lagi, andaikan Anda ribut-ribut sampai mulut berbusa-busa, kira-kira Prabowo atau Jokowi ingat nggak dengan kehidupan Anda, karena rakyat Indonesia itu jumlahnya tidak sedikit. Jika presiden terpilih kog terus memikirkan Anda yang suka menghujat dan kampanye hitam, apa dikira masyarakat lain nggak akan diurus oleh mereka meskipun yang Anda hujat adalah sama-sama berkesempatan menjadi presiden?

Salam Damai!

Global TV: Prabowo Unggul Versi Facebook, Jokowi Unggul Versi Twitter,

1402541823799023149
Prabowo-Jokowi Capres 2014/puisianaksd.wordpress.com
Global TV: Prabowo Unggul Versi Facebook, Jokowi Unggul Versi Twitter
Penulis : M. Ali Amiruddin, S.Ag.


Dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 10-6-2014 Global TV memberitakan bahwa Prabowo-Hatta unggul di media sosial facebook. Hal ini disampaikan dalam laman beritanya.

Melihat fenomena debat capres dan cawapres yang di selenggarakan di tv hakekatnya sangat memberikan pengaruh kepada suara-suara akar rumput. Hal ini dikarenakan media televisi memang menjadi sumber berita yang paling mudah diakses dan murah bagi kalangan bawah, sehingga keberadaan berita tersebut sekonyong-konyong membuat dunia persilatan kedua kubu menjadi sedikit garang.

Selain karena mudahnya diakses dan mudah menimbulkan pro dan kotra, hakekatnya media tv mempunyai andil yang cukup besar bagi proses transformasi program kerja yang ingin dicapai oleh masing-masing capres - cawapres. Terlepas baik atau buruk sebuah debat, dan berisi atau tidaknya materi debat tersebut, paling tidak masyarakat saat ini tidak terlalu katrok dan dapat menilai siapa saja yang jago debat dan siapa yang lemah dalam ajang tersebut.

Namun demikian, karena media televisi pun sulit untuk tidak apriori terhadap masing-masing kubu, tentu saja ada kepentingan bisnis yang turut mengiringi muatan berita dari media tersebut. Kembali pada persoalan kepentingan materi (uang) yang mendorong sebuah stasiun televisi berpihak atau tidak kepada masing-masing calon. Meskipun presiden sendiri mengatakan agar media bersikap netral demi menjaga kondisi yang tetap kondusif.

Darimanakah keunggulan Prabowo-Hatta versi Global TV? Dan bagaimanakah dengan Jokowi-JK?
Dalam beritanya keunggulan Prabowo-Hatta “katanya” berdasarkan suara-suara yang muncul di medsos Facebook. Mereka beranggapan bahwa kebanyakan pengguna facebook menambatkan pilihannya kepada Prabowo-Hatta. Dengan alasan Prabowo lebih tegas. Setelah saya amati berapa sih jumlah orang yang Like di akun milik timses Prabowo? Ternyata dalam akun Prabowo Subianto ada sekitar 5.589.910 orang penyuka. Jumlah yang cukup banyak ketika dikaitkan dengan suka atau tidak suka. Meskipun orang yang suka dengan Prabowo belum tentu memilihnya ketika pencoblosan. Semua murni “Like” bukan “Interest”. Sehingga keberadaan akun yang menyukai Prabowo pun tidak menjamin seratus persen memilih Prabowo - Hatta. Apalagi acara debat capres ini masih berlangsung. Seperti halnya “like” yang lebih sedikit pada akun Prabowo For President 2014-2019 yang hanya berjumlah 15.067 pada update-an tanggal 12 Juni 2014.

Dengan demikian, apa yang diberitakan oleh Global TV pun hakekatnya sekedar duga-duga dan hanya berdasarkan like yang diberikan pengguna fb tersebut meskipun kedua akun perbedaannya sangat signifikan. Ada apa ini? apakah Global TV partnershipnya Prabowo-Hatta? Entahlah.

Bagaimana dengan Jokowi-JK, apakah kedua orang ini memiliki penyuka yang juga banyak di fb? Setelah saya cek pada akun Joko Widodo - Jokowi ternyata jumlah penyukanya hanya sekitar 9.487 orang. Berbeda jauh dengan perolehan Prabowo yang justru lebih unggul. Namun sekali lagi Jokowi mempunyai penyuka di fb yang relatif sedikit pun tidak menjamin bahwa yang memilihnya jg akan lebih sedikit. Alasannya adalah karena rata-rata masyarakat bawah awam dengan fb, meskipun di Twitter Jokowi memang lebih unggul ketimbang Prabowo. Sebagaimana dirilis oleh media online new-bisnis.com tanggal 11 Juni 2014.

Sebuah fenomena yang menarik, meskipun tidak dapat dijadikan acuan seberapa besar penyuka atau pem-follow kedua kubu di kedua medsos ini sebagai dasar kemenangan beliau di Pemilu Capres-Cawapres  2014 ini.

Namun demikian, unggul atau tidak unggul di medsos hakekatnya hanyalah sebuah gambaran sementara yang dapat berubah setiap saat tergantung perjalanan keduanya ketika kampanye maupun debat terbuka tersebut.
Alhasil, semua tergantung para calon pemilih apakah mereka sekedar menyukai atau benar-benar gandrung dan ingin memilih salah satu dari keduanya. Yang penting pemilu berjalan kondusif dan damai tanpa ada pertikaian dan pelecehan nama baik seseorang.

Salam
Tulisan ini pertama kali dipublish di Kompasiana.com